Minggu, 24 Februari 2008

Masak di Sore Hari

Kamis, 21 Februari 2008, adalah hari yang istimewa. Kegiatan di kampus dimulai pada pukul 09.00 WIB dengan tes kelompok matakuliah MA 7281 Topik dalam Matematika Diskrit 2. Diberikan soal sebanyak dua nomor yang beranak dan jawabnya membutuhkan 3 lembar kertas buram terpakai bolak-balik. Fiuh.. Mba Teja dan aku memang tim yang kompak, kami berhasil menyelesaikannya tepat ketika Ibu Lyra menghampiri meja (enggak tepat2 amat sih sebenernya, heuheu). Pagi bertambah nikmat ketika tugas pekan kemarin dikumpulkan, 28 skala 30!! Alhamdulillah..

Selesai kuliah, aku langsung berkutat dengan selembar kertas corat-coret, pena, dan print-out slide presentasi tesis Mas Dedy, mencoba menganalisis kebenaran intuisi yang beliau pakai. Pekerjaan ini harus rampung sebelum dzuhur karena pukul 13.00 WIB ada presentasi progress report Ogrindo di ruang seminar Program Studi Teknik Perminyakan. Tegangnya.. dan pening menyiksa kepala!!

Agenda Ogrindo selesai tepat pukul 15.00 WIB, rencananya aku langsung ke sekretariat IA ITB 70, briefing acara gathering bersama alumni akhir pekan nanti. Tapi tangan ini sudah gerah untuk ngenet, sudah lama tidak bersapa secara virtual dengan penghuni YM, akhirnya kuturuti ajakan Ayu untuk mampir ke prodi. Jadi penasaran, kaos YM-ku sudah beres belum ya.. ‘Kang Muy, udah jadi kaos teh? Ga sabar pengen jemur baju di astri nih, heuheu..’

Ngenet, lumayan kenyang..

Progress report ke Erik, sudah..

Kerjaan dari Mba Ririn, beres..

(Kok gada laporan tentang TA ya? Nda betul kutengok!!)

Akhirnya, aku bisa piket masak bareng gHina (begini nulisnya kan??)!! Kamis ini kami memasak Sayur Lodeh, Balado Tongkol, dan Tempe Geulis (yang digoreng..). Hasilnya sangat memuaskan, banyak lho yang memuji masakan kami Kamis ini. Mau tahu rahasianya? Nih, aku bagi-bagi resepnya..

Sayur Lodeh

Bahan:

2 bungkus paket sayur lodeh (@Rp. 2.000,00)

1 bungkus kelapa parut (Rp. 1.000,00)

2 bungkus bumbu ajaib (rahasia)

Cara membuat:

1. Potong-potong dan bersihkan sayuran untuk lodeh, tiriskan.

2. Panaskan air, masukkan sereh, lengkuas yang sudah di geprek, dan irian cabe gendot yang digoreng sebentar dengan sedikit minyak (agar rasa pedasnya keluar).

3. Setelah medidih, masukan sayuran berdasarkan urutan tingkat kematangan.

4. Maukkan perasan air santan.

5. Masukkan bumbu ajaib!! (jadi inget Doraemon..)

6. Setelah matang, cek komposisi rasa, kalau sudah OK, masukkan irisan daun bawang.

Nb: dapat disantap oleh 14 orang lebih.

Balado Tongkol

Bahan:

14 potong tongkol digoreng dibalut telur (Rp. 3500,00 per ons)

1 bungkus cabe merah keriting haluskan (Rp. 1.000,00)

4 siung bawang merah iris tipis (persediaan di dapur)

1 buah tomat (dari kulkas asrama)

Garam secukupnya (persediaan di dapur)

Cara membuat:

1. Goreng bawang merah di atas minyak secukupnya sampai harum.

2. Masukkan cabe merah yang telah dihaluskan bersama tomat, masak hingga matang (keluar minyak).

3. Masukkan tongkol, aduk hingga tercampur.

Nb: untuk 14 orang.

Selamat mencoba!!

Kamis, 14 Februari 2008

Kamis Pagi di Asrama

Pintu kamar sudah ada yang mengetuk sebelum alarm handphone berbunyi, tapi mata ini terlalu lelah karena dipaksa menelusuri barisan-barisan huruf buku bersampul merah hingga larut malam. Alih-alih bangkit dan mengambil wudhu, kami berdua kembali terlelap, bermanja-manja dalam talbis iblis. Melewatkan kesempatan untuk berduaan dengan Yang Satu. Ghina dan aku, akhirnya beranjak dari masing-masing tempat tidur saat adzan Shubuh berkumandang, memaksa penghuni asrama untuk memenuhi panggilan-Nya di mesjid Salman. Setelah usrah asrama, kami merencanakan belanja bersama untuk makan malam hari ini. Belanja ke pasar Balubur di pagi hari.

Dengan balutan piyama dibalik jaket dan rok yang kami kenakan, penampilan kami cukup berbaur dengan suasana pasar yang cukup ramai. Mulailah perjuangan pagi itu, pertama-tama kami memilih jongko mana yang beruntung di datangi dua gadis manis (tapi masih bau bantal =P). Sambil menyisir jongko-jongko sepanjang jalan, mataku terkagum-kagum melihat barang dagangan yang super segar. Ikan bandeng dengan ukuran XL, tahu dan tempe (makanan favorit keluarga), dan surawung segar bergelantungan di atap-atap jongko. Akhirnya pilihan kami jatuh pada jongko penjual sayur segar, bahan makanan pokok, dan penjual beras.

Kami tidak menghabiskan waktu terlalu lama di pasar karena bahan makanan yang akan di beli sudah di list, mengasah kemampuan menejerial waktu nih ceritanya. Dari hasil pencatatan virtual, biaya yang dibutuhkan untuk makan malam asrama lebih rendah bila memasak sendiri, jauh lebih murah. Total belanja kami hari ini hanya Rp. 14.200,00 sedangkan bila membeli makan malam minimal kami harus mengeluarkan Rp. 20.000,00 untuk satu asrama. Wow . . saat budgeting pengeluaran asrama bulan depan tampaknya akan bertambah satu item, jalan-jalan bersama (gratis!!).

Selesai belanja, kami sarapan bersama di samping pasar Balubur. Makan bubur yang ternyata hanya mengotori gigi saja, karena pukul 10 pagi perut ini sudah menendang-nendang meminta jatah makan siang. Padahal kami sengaja makan di tempat karena ada bonus kerupuk. Berbeda jika buburnya dibungkus, jatah kerupuknya tidak memuaskan (Jangan heran dengan kemampuan melahap kami ya, santai.. tidak semua akhwat seperti ini kok =P).

Hm.. berakhirlah kegiatan bersama teman sekamarku pagi ini, ba’da Ashar nanti kami akan memasak bersama. Tumis Jamur Kangkung dan Perkedel Jagung akan menjadi santapan malam sederhana tapi istimewa untuk Asrama Putri Salman ITB kamis ini.

By the way, penasaran gak dengan rasa masakan tersebut?

menghapus jejakmu

seperti berjalan di padang pasir
di bawah kilatan cahaya
setelah suara selalu terlihat tinggal
langkah-langkah bertuliskan mimpi
penanda asa terdalam

bukan sekedar terbang ke cakrawala
dan bermain di balik cahaya
ia tumbuh menjadi akar
; menghujam ke dasar
ia laksana air bah
; meluluhlantakkan

menyisakan derasnya kepedihan
dalam doa, dalam mimpi, dalam nadi

maaf

duhai jiwa..
tak pernah ada niat untuk menorehkan tinta sehitam jelaga
tak pernah tersirat untuk melukiskan duka pada mushaf kehidupan
tak pernah terbayang untuk mengkhianati sang pemilik bashirah
walau sudah termaktub di setiap insan
belaian angin mempunyai keterangan
lebih jelas dari embun pagi

pernahkah kau dengar negeri tempat kaki berpijak
tak pernah ada terang karena mentari terhalang malam
dan jika bintang selalu pada singgasana
belai kekerasan hatinya
agar bukan melupakan jejak langkah
tapi menyusun yang terserak sebagai ketetapan
tasbihnya pada Yang Satu

menjauh

putri terlalu muda kemarin
masih hijau untuk membincang tentang kepergian
tapi semesta membuka rahasianya
membisikkan pilihan langkah di persimpangan
betapa nilai kepercayaan memiliki keberartian yang sangat
tak ada penolakan, tak ada kerisauan

dan hanya dengan ijin-Nya
putri pergi untuk kembali

kemari

putri..
cahayamu memudar
ruhmu bersiap meninggalkan kefanaan

jatuhlah, putri..
jatuhlah ke pelukanku
kuberikan warna pada mimpi-mimpimu

jatuhlah, putri..
jatuhlah kepelukanku
kumanjakan surga di pelupuk matamu

duhai jiwa dimana kebaikan berhimpun,
jadilah bidadari surgaku