seperti berjalan di padang pasir
di bawah kilatan cahaya
setelah suara selalu terlihat tinggal
langkah-langkah bertuliskan mimpi
penanda asa terdalam
bukan sekedar terbang ke cakrawala
dan bermain di balik cahaya
ia tumbuh menjadi akar
; menghujam ke dasar
ia laksana air bah
; meluluhlantakkan
menyisakan derasnya kepedihan
dalam doa, dalam mimpi, dalam nadi
Tampilkan postingan dengan label p u i s i. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label p u i s i. Tampilkan semua postingan
Kamis, 14 Februari 2008
maaf
duhai jiwa..
tak pernah ada niat untuk menorehkan tinta sehitam jelaga
tak pernah tersirat untuk melukiskan duka pada mushaf kehidupan
tak pernah terbayang untuk mengkhianati sang pemilik bashirah
walau sudah termaktub di setiap insan
belaian angin mempunyai keterangan
lebih jelas dari embun pagi
pernahkah kau dengar negeri tempat kaki berpijak
tak pernah ada terang karena mentari terhalang malam
dan jika bintang selalu pada singgasana
belai kekerasan hatinya
agar bukan melupakan jejak langkah
tapi menyusun yang terserak sebagai ketetapan
tasbihnya pada Yang Satu
tak pernah ada niat untuk menorehkan tinta sehitam jelaga
tak pernah tersirat untuk melukiskan duka pada mushaf kehidupan
tak pernah terbayang untuk mengkhianati sang pemilik bashirah
walau sudah termaktub di setiap insan
belaian angin mempunyai keterangan
lebih jelas dari embun pagi
pernahkah kau dengar negeri tempat kaki berpijak
tak pernah ada terang karena mentari terhalang malam
dan jika bintang selalu pada singgasana
belai kekerasan hatinya
agar bukan melupakan jejak langkah
tapi menyusun yang terserak sebagai ketetapan
tasbihnya pada Yang Satu
menjauh
putri terlalu muda kemarin
masih hijau untuk membincang tentang kepergian
tapi semesta membuka rahasianya
membisikkan pilihan langkah di persimpangan
betapa nilai kepercayaan memiliki keberartian yang sangat
tak ada penolakan, tak ada kerisauan
dan hanya dengan ijin-Nya
putri pergi untuk kembali
masih hijau untuk membincang tentang kepergian
tapi semesta membuka rahasianya
membisikkan pilihan langkah di persimpangan
betapa nilai kepercayaan memiliki keberartian yang sangat
tak ada penolakan, tak ada kerisauan
dan hanya dengan ijin-Nya
putri pergi untuk kembali
kemari
putri..
cahayamu memudar
ruhmu bersiap meninggalkan kefanaan
jatuhlah, putri..
jatuhlah ke pelukanku
kuberikan warna pada mimpi-mimpimu
jatuhlah, putri..
jatuhlah kepelukanku
kumanjakan surga di pelupuk matamu
duhai jiwa dimana kebaikan berhimpun,
jadilah bidadari surgaku
cahayamu memudar
ruhmu bersiap meninggalkan kefanaan
jatuhlah, putri..
jatuhlah ke pelukanku
kuberikan warna pada mimpi-mimpimu
jatuhlah, putri..
jatuhlah kepelukanku
kumanjakan surga di pelupuk matamu
duhai jiwa dimana kebaikan berhimpun,
jadilah bidadari surgaku
Kamis, 31 Januari 2008
bukan mawar hitam
panggung kecil itu tidak bernama
lantainya dari kayu jati
sehangat pagi hari, kuat
sewangi embun pagi, nyaman
"ramai", kata penonton di balik topi merah
"kocak!!", seru lelaki berbaju biru
"mm, aku bingung..", gumamnya
apa yang mereka tonton?
putri mendekat,
putri duduk di bangku penonton,
putri..
putri ikut naik ke panggung.
[bermain sandiwara]
dia bingung!
apa yang dia mainkan?
apa..
apa ini cerita tentang keterbukaan?
dimana transfer informasi tak lagi bermembran
tak ada lagi aku dan kamu
apa ini cerita tentang kekuatan berafiliasi?
mengatasnamakan hubungan interpersonal
dalam memaknai setiap aktifitas
putri memang terganggu.
tapi bukan itu yang menyebabkan putri pergi,
sungguh..
dia sangat menikmati kebersamaan disana
setiap rasa adalah kebahagiaan
keterikatan hati yang terinternalisasi
dan kasih sayang mewarnai detik yang ada
: seperti berenang di kolam pelangi
putri meneruskan langkahnya yang terhenti.
tak ada perpisahan,
biar tak ada rasa sakit
biar tetap menyimpan yang tersisa
akhirnya dia paham:
panggung itu bukan mawar hitam
lantainya dari kayu jati
sehangat pagi hari, kuat
sewangi embun pagi, nyaman
"ramai", kata penonton di balik topi merah
"kocak!!", seru lelaki berbaju biru
"mm, aku bingung..", gumamnya
apa yang mereka tonton?
putri mendekat,
putri duduk di bangku penonton,
putri..
putri ikut naik ke panggung.
[bermain sandiwara]
dia bingung!
apa yang dia mainkan?
apa..
apa ini cerita tentang keterbukaan?
dimana transfer informasi tak lagi bermembran
tak ada lagi aku dan kamu
apa ini cerita tentang kekuatan berafiliasi?
mengatasnamakan hubungan interpersonal
dalam memaknai setiap aktifitas
putri memang terganggu.
tapi bukan itu yang menyebabkan putri pergi,
sungguh..
dia sangat menikmati kebersamaan disana
setiap rasa adalah kebahagiaan
keterikatan hati yang terinternalisasi
dan kasih sayang mewarnai detik yang ada
: seperti berenang di kolam pelangi
putri meneruskan langkahnya yang terhenti.
tak ada perpisahan,
biar tak ada rasa sakit
biar tetap menyimpan yang tersisa
akhirnya dia paham:
panggung itu bukan mawar hitam
tak perlu ada
menunggu gerhana
dan kata-kata menerawang dibalik jemari
menelusuri huruf demi huruf
mencari pemaknaan
tapi mata terlalu lelah
merah dan sayu dirajang waktu
merambat meninggalkan semua penundaan
hanya bingkai bergantung di dinding
sebatas penanda waktu yang berlari
menyebut dirinya: kenangan
...
memang bukan untuk disesali
karena tak pernah akan kehilangan
saat tersadar:
tidak bisa memiliki
bahkan mendominasi
adalah suatu keniscahyaan
di dunia ini.
dan kata-kata menerawang dibalik jemari
menelusuri huruf demi huruf
mencari pemaknaan
tapi mata terlalu lelah
merah dan sayu dirajang waktu
merambat meninggalkan semua penundaan
hanya bingkai bergantung di dinding
sebatas penanda waktu yang berlari
menyebut dirinya: kenangan
...
memang bukan untuk disesali
karena tak pernah akan kehilangan
saat tersadar:
tidak bisa memiliki
bahkan mendominasi
adalah suatu keniscahyaan
di dunia ini.
menunggu
waktu berjatuhan lemah
seperti gugurnya bunga bungur
di tanah basah sepanjang musim
melantunkan syair tanpa nada
pelan dan perlahan
aku di balik jendela
ditemani hangatnya secangkir coklat dan novel sisa semalam
; selamat datang sia-sia!
seperti gugurnya bunga bungur
di tanah basah sepanjang musim
melantunkan syair tanpa nada
pelan dan perlahan
aku di balik jendela
ditemani hangatnya secangkir coklat dan novel sisa semalam
; selamat datang sia-sia!
kemana?
tinta kehilangan kata dan cara
untuk merangkai rasa
pena ini tergolek; begitu lemah
terkadang gundah
tapi tak tahu kemana arah
terkadang resah
dan tersesat labirin sejarah
tak dapat kembali
untuk sekedar bertanya:
Kaukah yang kutuju, Tuhan?
untuk merangkai rasa
pena ini tergolek; begitu lemah
terkadang gundah
tapi tak tahu kemana arah
terkadang resah
dan tersesat labirin sejarah
tak dapat kembali
untuk sekedar bertanya:
Kaukah yang kutuju, Tuhan?
Langganan:
Postingan (Atom)
