Minggu, 13 April 2008

adik-adikku ;)

Tumben. gHina dan aku tak mempersiapkan rencana masak kamis pekan ini. Kami pergi ke pasar Balubur penuh persiapan tapi tanpa perencanaan, kumaha engke! Sampai di depan jongko sayur langganan (wortel yang dijual di sini bentuknya serupa, bagus untuk sajian makanan), kami sengaja menepi sejenak untuk kembali berpikir.

A : mau masak apa, say?
B : bigung…
B : gimana kalo masak soto?
A : boleh juga, tau bumbunya g?
B : ntar tanya mama dulu [mulai sms]..
A : nih telp aja pake hapeku!
B : [ko g nyambung-nyambung yak??] eug, lupa uy.. mama lagi di Jakarta..
A : heuheu, tanya ibu itu aja gmn? [sambil nunjuk seorang ibu di depan jongko]
B : yuk!!

Benar ternyata, malu bertanya sesal kemudian (ada g sih peribahasa ini??). Sore harinya, kami sukses memasak soto Bandung dan tempe tepung. Ada yang kurang ternyata... kami lupa membeli kerupuk...

Haturnuhun ya, Bu!!

Lucunya, ibu itu excited sekali saat kami bertanya bumbu soto. Tampaknya beliau siap memberi tips-tips memasak jika tidak sedang terburu-buru. Jadi teringat kang Acung (tutor paling keren se-matematika, Aljabar Linear begitu simple lewat kacamata-nya), beliau terlihat sangat menikmati mengajar orang lain. Pun diriku, melihat ekspresi penasaran adik privat saat berusaha memahami materi, anggukan kepalanya saat kutanya kepahaman, binar matanya saat dapat menyelesaikan soal level II, nikmat-Nya begitu sempurna...

Tiba-tiba aku jadi sangat menyayangi Ita, Anas, Nanda, dan Ayang. Lewat mereka, kebutuhan untuk menjadi-berarti-bagi-orang-lain terpenuhi. Mengajar terkadang memang melelahkan, tetapi berlelah-lelah dalam perjuangan itu perasaan yang begitu indah. Kepuasan itu muncul tidak hanya karena proses mengajar berjalan lancar (baca=dapat menyelesaikan problem mereka), juga karena telah menyampaikan nilai-nilai kehidupan (sejauh yang kupahami tentunya). Bersama-sama dan secara sederhana, kami berharap dapat membangun modal manusia dengan kemampuan organisasi dan penguasaan kompetensi. Modal utama dalam meningkatkan daya saing. Meninggalkan kebiasaan copying menuju catch-up.

Sekilas tentang adik-adik tersayang...

Ita, perangainya begitu lembut. Selembut wajahnya. Anak pertama dari tiga bersaudara ini langsung memikat hatiku dengan sopan santun dan keramahan ’ala sunda. Lantunan ayat suci Al Qur’an lebih sering terdengar di rumahnya daripada lagu-lagu pop. Anak ini tidak mudah menyerah dalam belajar.

Ayang, sangat cerdas. Aku dapat menghemat 30% tenaga dalam mengajar saat berhadapan dengannya. Anak ini masih fresh, berada di dekatnya dapat menjaga semangat dan membuatku selalu tersenyum. Kali pertama pertemuan kembali dengannya membuatku kaget, dia sangat berbeda dengan Ayang yang kukenal hampir tujuh tahun yang lalu. Yup, aku memang sudah mengenal keluarganya sejak lama. Kakaknya dan aku, teman seperjuangan ketika SMA dulu. Jaman aku masih bau kencur, kata Mba Teja.

Anas dan Nanda, adik-adik kecil yang manis dan sangat menghargai wanita. Ekspresi heran mereka saat melihat halaqah-halaqah Al Qur’an dan deretan rapat koordinasi di Salman membuatku tersenyum simpul. Sangat berbeda dengan kultur Maranatha, mereka bilang. Berinteraksi dengan mereka adalah salah satu manifestasi dalam diversifikasi pergaulan. Oya, sepupu Anas adalah penulis terkenal yang satu pun bukunya belum pernah aku baca. Sementara Nanda, membuatku ingin berkenalan dengan ibunya. Dididik seperti apa sih, Bu? Sopan sekali anakmu ini...

Dini hari ini, aku membayangkan wajah mereka satu per satu dan berharap Allah swt. menakdirkan perjodohan kami tidak di dunia saja tapi sampai di surga-Nya kelak...

Senin, 07 April 2008

Pembelajar Sejati

Ada satu pertanyaan yang cukup mengusik (buatku) di Sekolah Pra Nikah pekan kemarin. Saat itu kami membahas psikologi ikhwan dan akhwat. Point penting materi adalah dapat menerima perbedaaan dan tidak high-expectation. Seorang akhwat mempertanyakan cara menjaga semangat belajar dalam memahami pasangan hidup. "Cape dong..", kata beliau.
Rumah tangga, dimana dua kekuatan dihimpun, membawa misi khusus untuk tujuan mulia, yaitu mencapai ridha Allah (it's mine). Setengah dien inilah yang memacu aktivitas reaksi sehingga grafik fungsi kedewasaan berubah menjadi eksponensial. Mungkin distribusinya serupa dengan laju kedatangan penonton saat pintu teater tiga dibuka. Penyesuaian feromon pada masa pacing dengan pasangan hidup membentuk manusia menjadi pembelajar sejati. mengapa? Karena mencoba memaknai satu bentuk kemanusiaan adalah never ending journey. Toh manusia dipengaruhi oleh sejarah dan lingkungan. Variabel yang tidak konsisten dalam fungsi waktu. Walaupun sejarah merupakan bentuk keabadian, namun pemaknaannya bergantung pada kacamata kedewasaan.
Salah satu hal menarik dari belajar adalah ketakutan terhadapnya. Mungkin, ketakutan inilah yang menyebabkan Sistem Kebut Semalam masih diminati di kalangan pelajar dan mahasiswa (Hafiz dan kang Acung gak masuk sini, teman!). Karena belajar itu tidak hanya duduk di kelas saat kuliah atau berdiskusi di ruang MAC dengan sparing partner keilmuan. Belajar adalah poses untuk menjadi. Dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak bisa menjadi bisa, dan tidak mampu menjadi mampu, dsb. Dalam salah satu kajian yang diadakan oleh ust. Hervy, beliau mengatakan bahwa salah satu tujuan belajar adalah untuk mengangkat kebodohan dari diri sendiri dan orang lain. Belajar, dengan berbagai mekanisme dan alat bantu, merupakan proses perpindahan ke state yang lebih baik (analog dengan state Avatar-nya Aang, jika sudah bisa dikendalikan).
Proses belajar berlangsung setiap saat. Mari optimalkan pengambilan manfaat dari proses ini dengan kesadaran penuh. Jangan berkata terlambat! Karena kita juga sedang belajar untuk tidak kehilangan harapan. Sebesar harapan orang tua untuk kesembuhan anaknya yang menderita pregorio.
Salam pembelajar, kawan!

Minggu, 24 Februari 2008

Masak di Sore Hari

Kamis, 21 Februari 2008, adalah hari yang istimewa. Kegiatan di kampus dimulai pada pukul 09.00 WIB dengan tes kelompok matakuliah MA 7281 Topik dalam Matematika Diskrit 2. Diberikan soal sebanyak dua nomor yang beranak dan jawabnya membutuhkan 3 lembar kertas buram terpakai bolak-balik. Fiuh.. Mba Teja dan aku memang tim yang kompak, kami berhasil menyelesaikannya tepat ketika Ibu Lyra menghampiri meja (enggak tepat2 amat sih sebenernya, heuheu). Pagi bertambah nikmat ketika tugas pekan kemarin dikumpulkan, 28 skala 30!! Alhamdulillah..

Selesai kuliah, aku langsung berkutat dengan selembar kertas corat-coret, pena, dan print-out slide presentasi tesis Mas Dedy, mencoba menganalisis kebenaran intuisi yang beliau pakai. Pekerjaan ini harus rampung sebelum dzuhur karena pukul 13.00 WIB ada presentasi progress report Ogrindo di ruang seminar Program Studi Teknik Perminyakan. Tegangnya.. dan pening menyiksa kepala!!

Agenda Ogrindo selesai tepat pukul 15.00 WIB, rencananya aku langsung ke sekretariat IA ITB 70, briefing acara gathering bersama alumni akhir pekan nanti. Tapi tangan ini sudah gerah untuk ngenet, sudah lama tidak bersapa secara virtual dengan penghuni YM, akhirnya kuturuti ajakan Ayu untuk mampir ke prodi. Jadi penasaran, kaos YM-ku sudah beres belum ya.. ‘Kang Muy, udah jadi kaos teh? Ga sabar pengen jemur baju di astri nih, heuheu..’

Ngenet, lumayan kenyang..

Progress report ke Erik, sudah..

Kerjaan dari Mba Ririn, beres..

(Kok gada laporan tentang TA ya? Nda betul kutengok!!)

Akhirnya, aku bisa piket masak bareng gHina (begini nulisnya kan??)!! Kamis ini kami memasak Sayur Lodeh, Balado Tongkol, dan Tempe Geulis (yang digoreng..). Hasilnya sangat memuaskan, banyak lho yang memuji masakan kami Kamis ini. Mau tahu rahasianya? Nih, aku bagi-bagi resepnya..

Sayur Lodeh

Bahan:

2 bungkus paket sayur lodeh (@Rp. 2.000,00)

1 bungkus kelapa parut (Rp. 1.000,00)

2 bungkus bumbu ajaib (rahasia)

Cara membuat:

1. Potong-potong dan bersihkan sayuran untuk lodeh, tiriskan.

2. Panaskan air, masukkan sereh, lengkuas yang sudah di geprek, dan irian cabe gendot yang digoreng sebentar dengan sedikit minyak (agar rasa pedasnya keluar).

3. Setelah medidih, masukan sayuran berdasarkan urutan tingkat kematangan.

4. Maukkan perasan air santan.

5. Masukkan bumbu ajaib!! (jadi inget Doraemon..)

6. Setelah matang, cek komposisi rasa, kalau sudah OK, masukkan irisan daun bawang.

Nb: dapat disantap oleh 14 orang lebih.

Balado Tongkol

Bahan:

14 potong tongkol digoreng dibalut telur (Rp. 3500,00 per ons)

1 bungkus cabe merah keriting haluskan (Rp. 1.000,00)

4 siung bawang merah iris tipis (persediaan di dapur)

1 buah tomat (dari kulkas asrama)

Garam secukupnya (persediaan di dapur)

Cara membuat:

1. Goreng bawang merah di atas minyak secukupnya sampai harum.

2. Masukkan cabe merah yang telah dihaluskan bersama tomat, masak hingga matang (keluar minyak).

3. Masukkan tongkol, aduk hingga tercampur.

Nb: untuk 14 orang.

Selamat mencoba!!

Kamis, 14 Februari 2008

Kamis Pagi di Asrama

Pintu kamar sudah ada yang mengetuk sebelum alarm handphone berbunyi, tapi mata ini terlalu lelah karena dipaksa menelusuri barisan-barisan huruf buku bersampul merah hingga larut malam. Alih-alih bangkit dan mengambil wudhu, kami berdua kembali terlelap, bermanja-manja dalam talbis iblis. Melewatkan kesempatan untuk berduaan dengan Yang Satu. Ghina dan aku, akhirnya beranjak dari masing-masing tempat tidur saat adzan Shubuh berkumandang, memaksa penghuni asrama untuk memenuhi panggilan-Nya di mesjid Salman. Setelah usrah asrama, kami merencanakan belanja bersama untuk makan malam hari ini. Belanja ke pasar Balubur di pagi hari.

Dengan balutan piyama dibalik jaket dan rok yang kami kenakan, penampilan kami cukup berbaur dengan suasana pasar yang cukup ramai. Mulailah perjuangan pagi itu, pertama-tama kami memilih jongko mana yang beruntung di datangi dua gadis manis (tapi masih bau bantal =P). Sambil menyisir jongko-jongko sepanjang jalan, mataku terkagum-kagum melihat barang dagangan yang super segar. Ikan bandeng dengan ukuran XL, tahu dan tempe (makanan favorit keluarga), dan surawung segar bergelantungan di atap-atap jongko. Akhirnya pilihan kami jatuh pada jongko penjual sayur segar, bahan makanan pokok, dan penjual beras.

Kami tidak menghabiskan waktu terlalu lama di pasar karena bahan makanan yang akan di beli sudah di list, mengasah kemampuan menejerial waktu nih ceritanya. Dari hasil pencatatan virtual, biaya yang dibutuhkan untuk makan malam asrama lebih rendah bila memasak sendiri, jauh lebih murah. Total belanja kami hari ini hanya Rp. 14.200,00 sedangkan bila membeli makan malam minimal kami harus mengeluarkan Rp. 20.000,00 untuk satu asrama. Wow . . saat budgeting pengeluaran asrama bulan depan tampaknya akan bertambah satu item, jalan-jalan bersama (gratis!!).

Selesai belanja, kami sarapan bersama di samping pasar Balubur. Makan bubur yang ternyata hanya mengotori gigi saja, karena pukul 10 pagi perut ini sudah menendang-nendang meminta jatah makan siang. Padahal kami sengaja makan di tempat karena ada bonus kerupuk. Berbeda jika buburnya dibungkus, jatah kerupuknya tidak memuaskan (Jangan heran dengan kemampuan melahap kami ya, santai.. tidak semua akhwat seperti ini kok =P).

Hm.. berakhirlah kegiatan bersama teman sekamarku pagi ini, ba’da Ashar nanti kami akan memasak bersama. Tumis Jamur Kangkung dan Perkedel Jagung akan menjadi santapan malam sederhana tapi istimewa untuk Asrama Putri Salman ITB kamis ini.

By the way, penasaran gak dengan rasa masakan tersebut?

menghapus jejakmu

seperti berjalan di padang pasir
di bawah kilatan cahaya
setelah suara selalu terlihat tinggal
langkah-langkah bertuliskan mimpi
penanda asa terdalam

bukan sekedar terbang ke cakrawala
dan bermain di balik cahaya
ia tumbuh menjadi akar
; menghujam ke dasar
ia laksana air bah
; meluluhlantakkan

menyisakan derasnya kepedihan
dalam doa, dalam mimpi, dalam nadi

maaf

duhai jiwa..
tak pernah ada niat untuk menorehkan tinta sehitam jelaga
tak pernah tersirat untuk melukiskan duka pada mushaf kehidupan
tak pernah terbayang untuk mengkhianati sang pemilik bashirah
walau sudah termaktub di setiap insan
belaian angin mempunyai keterangan
lebih jelas dari embun pagi

pernahkah kau dengar negeri tempat kaki berpijak
tak pernah ada terang karena mentari terhalang malam
dan jika bintang selalu pada singgasana
belai kekerasan hatinya
agar bukan melupakan jejak langkah
tapi menyusun yang terserak sebagai ketetapan
tasbihnya pada Yang Satu

menjauh

putri terlalu muda kemarin
masih hijau untuk membincang tentang kepergian
tapi semesta membuka rahasianya
membisikkan pilihan langkah di persimpangan
betapa nilai kepercayaan memiliki keberartian yang sangat
tak ada penolakan, tak ada kerisauan

dan hanya dengan ijin-Nya
putri pergi untuk kembali